Jalani Ketofastosis, Penyakit Sembuh dan Badan Menjadi Langsing

Jalani Ketofastosis, Penyakit Sembuh dan Badan Menjadi Langsing

Dilihat sebanyak 10 kali

Susan (48 tahun) seorang ibu RT dengan berat 114 kg di tahun 2017 mengeluhkan deretan penyakit degeneratif yaitu diabetes melitus, jantung, gerd, batu empedu, ginjal, indikasi fatty liver, syaraf kejepit (HNP), penyempitan pembuluh darah otak kiri. Telah mengupayakan berbagai cara untuk mengobati penyakit dan menurunkan berat badan namun penyakitnya tidak berkurang malah semakin parah, sampai seorang teman mengenalkannya dengan KetoFastosis. Susan menjalankan protokol KetoFastosis mulai April 2017 dan di bulan Juli 2018 kondisinya sehat tanpa obat, langsing dengan berat 74 kg dan berenergi melakukan berbagai aktifitasnya. Yusmarika Jaya survivor kanker testisteron, Eddy Hidayat penderita penyumbatan jantung, M. Thoriq penderita epilepsi serta Susan Badriansyah penderita DM dan berbagai komplikasi penyakit generatif lainnya. Mereka merupakan segelintir dari potret kondisi umum masyarakat Indonesia yang tidak sehat akibat dari terjadinya perubahan gaya hidup (pola pikir, polaaktivitasdan pola makan) dalam kehidupan sehari-hari. Tuntutan hidup yang tinggi dan serba cepat membuat kadar stress meningkat. Aktivitas fisik dari yang awalnya aktif sekarang menjadi cenderung pasif dan kurang gerak. Makanan sangat mudah diperoleh dengan berbagai jenis yang semakin beragam. Hormon Insulin ini adalah hormon yang bersifat “Anabolic” dimana merupakan hormon yang memicu Pembentukan Lemak dan akan menghentikan Pembakaran Lemak. Saat hormon ini menjadi selalu dominan ditubuh, maka hilanglah kemampuan alami manusia untuk bisa dengan mudah mengakses lemak cadangannya disaat makanan tidak tersedia. Gejala Hipoglikemik selalu menimbulkan insting untuk kembali mencari makanan.Kondisi dunia saat ini dimana sumber makanan telah ada dan melimpah dimana-mana, membuat manusia dengan mudah memperoleh makanan kembali untuk meredakan gejala yang muncul akibat Hipoglikemik. Inilah faktor utama yang menyebabkan manusia saat ini menjadi sangat lemah terhadap kondisi kekurangan asupan makanan (defisit energi).Hal inibahkan menciptakan kondisi dimana tubuh manusia akan selalu mengalami kelebihan energiakibat terlalu sering dan terlalu banyak makan.Kelebihan energi ini akan dirubah menjadi bentuk lemak pada tubuh, dan jika hal ini terjadi terus menerus akan menyebabkan kegemukan. Kegemukan, diet dengan konsumsi tinggi karbohidrat, dan gaya hidup kurang bergerak akan mengakibatkan resistensi insulin yang kemudian bisa mengarah pada berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, hipertensi dan juga penyakit tumor atau kanker. Program KetoFastosis memberikan batasan “kapan waktunya makan” dan “apa yang dimakan” Hal ini dilakukan untuk membangun kembali kemampuan bertahan hidup manusia dengan kondisi Defisit Energi disetiap saat, dimana kondisi defisit energi ini justru akan memicu pembentukan Kemampuan Bertahan (Resistansi) terhadap berbagai macam penyakit yang bisa muncul dari dalam tubuh, maupun dari ancaman infeksi diluar tubuh. Kondisi kalori defisit yang memicu efektivitas metabolisme lemak, akan membentuk selektivitas alami didalam tubuh manusia, dimana hanya sel-sel yang normal dan sehat saja yang akan dipertahankan. Otomatis kondisi seperti ini akan membentuk tubuh yang sangat kebal terhadap berbagai stress yang bisa terjadi akibat kekurangan makanan, serangan infeksi, mutasi sel (tumor atau kanker) didalam tubuh, dan mencegah munculnya berbagai macam penyakit metabolisme yang terjadi dimasa kini. Program KetoFastosis bukanlah diet semata, program ini mengembalikan cara hidup manusia sebenarnya dimana makanan bukanlah penghambat aktivitas manusia dimuka bumi. Dengan membentuk metabolisme lemak yang dihasilkan dari kondisi penguasaan terhadap puasa yang menggunakan pola makan manusia di masa lalu sebagai Pemburu & Pengumpul, maka Fastosis akan mengembalikan kemampuan Bertahan Hidup yang tinggi pada manusia modern yang telah menjadi lemah, dan ketergantungan dengan tersedianya bahan makanan setiap saat. Komunitas KetoFastosis Indonesia didirikan oleh Nur Agus Prasetyo pada tanggal 20 Januari 2016 berawal dari 30 orang anggota dan mengalami perkembangan yang sangat pesat menjadi 350.000 orang dalam media sosial Facebook “Keto-Fastosis (Fasting on Ketosis)” di pertengahan tahun 2018. Perkembangan yang luar biasa ini terjadi karena KFI merupakan komunitas non profit yang juga didukung oleh anggota di berbagai daerah, dengan prinsip “Fasting is The Healer and Ketosis is The Keeper”dan“Knowledge is For Share not For Sale”.Hal ini juga disebabkan olehadanya bukti-bukti dari keefektifan puasa di dalam kondisi ketosis yang pada akhirnya atas ijin Allah SWT memberikan kesembuhan dan kondisi yang lebih sehat pada penderita berbagai penyakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.** Yussy Kusumawardani FIC KF Jabar

  • 17 bulan lalu